Cerita ini diawali dari awal aku masuk Sekolah Menengah Akhir (SMA). Namaku Dwi dalam pergaulan aku adalah tipe orang yang penyendiri, sedikit sekali orang yang mengetahui tentang diriku. Aku orangnya juga jutek, cuek, selengean, pemarah, dan paling tidak suka jika ada orang yang sok akrab. Tapi itu dulu sebelum aku kenal dengan Ine, cewek yang sudah merubah sisi gelap dalam diriku. Awal perkenalanku dengan Ine ketika aku diajak temanku All (nama samara) bermain kerumah temannya yang dekat dengan sekolah ku, karena aku merasa suntuk dirumah aku ikud saja.
“Dia siapa All” Tanya temannya All ketika kita sampai dirumahnya.
“Ini Dwi teman sekolahku” Jawab All.
Aku hanya diam saja karena aku merasa risih dengan temannya All yang dari tadi terus memperhatikanku sambil sesekali melemparkan senyum padaku. Mungkin hal itu adalah lumrah, menunjukan keramahan tapi bagiku hal itu beda karena aku belum terbiasa.
“Dwi ini Ine temanku” Kata All memperkenalkan aku pada temannya.
Aku hanya cuek, bahkan aku sama sekali tidak menjabat tangannya waktu All memperkenalkan ku padanya. Ine sudah tidak bersekolah, umurnya dulu 23. Kalau sekarang enggak tau belum sempat ngitung. Heheh
Rumahnya Ine dekat dengan sekolahku, biasanya sehabis pulang sekolah aku nongkrong di depan konter depan sekolah menunggu jemputan. Karena aku tidak punya sepeda motor , sebenarnya sih punya tapi dipakai ayah untuk bekerja.
Singkat cerita Ine mencoba akrab denganku. Pernah waktu aku menunggu jemputan ketika pulang sekolah Ine melambaikan tangannya kepadaku. Ine berdiri disebuah sudut jendela rumahnya sambil tersenyum malu. Aku hanya tertawa kecil sambil berkata dalam hati “Maksudnya ini cewek apa?”. Memang aku akui dulu aku sangat membecinya karena dia mencoba dekat denganku tapi Ine selalu membuatku tertawa. Dia memang lucu. Entah sudah berapa kali dia membuat ku tertawa.
Suatu hari aku kehabisan pulsa meskipun didepanku ada konter tapi tetap saja aku tidak dapat mengisi pulsa dikarenakan konternya tutup. Heheh
“Ehhh!! Ne….Ine,,,!! Disini dimana lagi ada konter. Pulsaku habis mau ngisih didepan tutup” Tanyaku pada Ine yang kebetulan lewat.
“Oh kebetulan aku jual pulsa” Jawab Ine dengan semangat.
“Ya udah aku isi pulsa 10rb”
“Oke mana nomernya?” Ine mengeluarkan HP.
“085855xxxxxx”
Beberapa menit kemudian ko’ pulsanya enggak masuk-masuk.
“Eh mana ini ko’ enggak masuk-masuk!” Kataku pada Ine.
Dengan santainya Ine berkata padaku “Ya mana aku tau,,,!!”
“Niat jualan pulsa enggak sih!!!” Agak kesal.
“Ups aku lupa. Aku enggak jualan pulsa”
Kamprettt!!! Ternyata aku dibohongin. Untung duitnya belum aku kasihkan ke dia.
“Terus konter di dekat sini dimana?” Dengan nada agak tinggi pada Ine.
“Tauuu!!! Lapor ke Pak Camat sana!”
Aaarrrrrgggghhhh…..!!! rasanya pengen remet HP terus tak kunyah. Malamnya ada SMS nyasar ke nomorku.
“Sayanggg….” Isi pesan itu.
Langsung tekatan darahku naik.
“Siapa orang kurang kerjaan ini!!” Ucapku dalam hati.
Ku coba telfon orang iseng itu. Terdengan suara RBT atau nada sambung pribadi, lagunya lupa, heheh. Beberapa menit kemudian telfonku diangkat.
“Halo ini siapa ya?” Ucapku ditelfon.
Ditelfon aku mendengar suara TV lalu ada suara cewek menjawab teleponku.
“Yayangmu,,,”
Arrrrrgggghhhh….. sarapppp!!! Pengen ngunyah HP untuk yang kedua kalinya. Karena kesal langsung aku tutup telfonnya. Setiap malam pasti ada SMS dari cewek eror itu, ya sih memang menyebalkan tapi setiap SMSnya membuatku tertawa. Kadang ngirim kata-kata lucu, motifasi, dll. Aku sama sekali tidak tau identitas cewek eror yang suka SMS itu karena setiap aku Tanya pasti dia ngeles.
Gara-gara SMS cewek eror tersebut aku juga ikutan eror. Entah kenapa setiap aku ingat SMSnya aku jadi ketawa sendiri. Semua SMS dari cewek eror tersebut aku simpan, terkadang kalau aku lagi suntuk aku baca SMSnya. Lumayan lah mengisih waktu luang.
Ine yang ku kenal adalah Ine yang ceria, tidak sedikitpun nampak kesedihan di hatinya. Tapi suatu hari aku melihatnya menangis karena putus dari pacarnya. Sesekali dia melihat SMS dari pacarnya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. Apakah aku yang melihat hal itu juga ikud iba? Enggak malah aku senang, Ine yang selama ini ceria dan menyebalkan akhirnya menangis juga. Aku tertawa kecil disampingnya, kalau difikir ternyata waktu itu aku nampak jahat. Ternyata aku begitu jahat, senang melihat orang lain kesusahan. “Dengan begini Ine pasti menjauhiku, membenciku dan aku terbebas dari cewek stress ini” Fikirku.
Tapi kenyataan berkata lain. Besok paginya hari minggu ketika aku selesai mandi ada telfon dari cewek eror yang suka SMS. Langsung aku angkat telfon itu sambil sesekali kerepotan memakai pakaian.
“Halo ada apa? Biasanya SMS ko’ tumben telfon?” Tanyaku agak terbata-bata karena sedang memakai pakaian.
“Kamu lagi ngapain?” Jawabnya dari telfon.
“Baru aja selesai mandi, emang ada apa?”
“Cepetan kesini,,”
“Enggak mau ah!! Aku kan enggak kenal kamu,,”
“Aku Ine, kamu harus kesini enggak boleh enggak”
Ya ampun,,, jadi selama ini cewek eror itu adalah Ine. Aku langsung cekikikan menahan tawa. Kampret aku dikerjain sama Ine.
“Kamu kenapa? Pokoknya kamu harus kesini nanti tempatnya aku kasih tau lewat SMS”
TUUUTTT,,,,TTUUUUT,,,,TUUUTTT,,,,
Ini cewek belum aku jawab iya atau tidak main tutup aja. Terpaksa aku menuruti maunya. Ternyata aku diajak makan disebuah tempat makan bersama temannya Sarah (nama samara). Perasaan ku agak enggak enak jangan-jangan nanti selesai makan aku disuruh bayar lagi.
Ketika Ine pergi memesan makanan Sarah berkata padaku. “Kasian ya Ine, sejak ditinggal bapaknya dia sering melamun jika sedang sendiri. aku sering memergokinya menangis sambil menatap foto ayahnya yang tergantung di tembok. Udah gitu sekarang dia diputusin pacarnya padahal teman seumurannya sudah menikah. Tinggal Ine yang belum menikah”
Mendengar cerita dari Sarah aku kaget. Kenapa selama ini aku tidak tahu jika Ine sudah tidak memiliki ayah. Ternyata selama ini Ine hanya tertawa didepanku dan di depan semua orang tapi sebenarnya hatinya menangis. Ine adalah cewek yang tegar, kuat menanggung beban hidupnya. Sedangkan aku kalau dibandingkan dengan Ine tidak ada apa-apanya. Sebenarnya selama ini aku marah terhadap apapun didunia ini karena tidak ada yang mengerti akan isi hatiku. Semuanya berawal ketika aku kecil, aku merasa marah terhadap Tuhan karena mengambil satu persatu orang-orang yang aku sayangi hingga akhirnya aku merasa kesepian. Disaat aku kesepian aku merasa tidak ada orang yang mengerti akan semua yang aku rasakan. Itu sebabnya aku lebih banyak membenci, mendendam, tidak bersyukur, dari apa yang ada didalam hidupku ini. Hatiku terlalu gelap untuk merasa.
Tapi saat aku mengetahui tentang hal yang dialami oleh Ine aku menjadi merasa kalau diriku ini lemah. Disaat orang sudah mulai bergerak maju aku masih terpuruk manja tidak menerima kenyataan. Saat itu entah kenapa aku menjadi peduli dengan Ine, seakan-akan aku dan Ine sama. Aku lebih banyak memikirkan Ine, mencoba mengerti segala hal dalam hidupnya.
“Dwi selesai makan kamu mau kemana?” Tiba-tiba lamunanku buyar ketika Ine menyapa ku lalu duduk disebelahku sambil membawa makanan pesanannya.
“Oh ya,,, aku ya,,, pulang kayaknya” Jawabku agak terkaget.
“Ko’ pulang sih,,, aku kan masih ingin jalan-jalan. Kita pergi kemana gitu”
Singkat cerita aku mengajaknya ketempat rahasiaku dimana aku terbiasa menyendiri memikirkan kebahagiaan ku bersama dengan orang-orang yang aku sayangi ketika masih kecil. Ditempat itu aku bercerita tentang masa lalu ku ketika aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Entah Ine mendengarkan atau tidak. Hampir aku menjatuhkan air mata ini karena mengingat mereka.
Ine hanya terdiam lalu mengeluarkan HP disakunya.
“Dwi kamu suka dengerin radio enggak, coba dengerin deh. Nih!” Ine menyodorkan headsetnya.
Aku pasang headset itu dikupingku. Ine suka mendengarkan EBS.fm, Warna.fm, terkadang juga mradio.fm. “Tapi kalo mradio enggak bisa request, jadi aku jarang denger kalo mradio” kata Ine. Saat itu saat bersama Ine hatiku menjadi tenang sepertinya aku merasa berada di padang rumput yang hijau sambil duduk dibawah pohon rindang dihari yang cerah dengan angin berhembus lembut. Hatiku merasa cerah, tak pernah aku merasakan seperti ini.
Aku perhatikan Ine dia sedang sibuk memencet HPnya, sepertinya sedang SMS seseorang. Aku tidak memperdulikan hal itu karena yang aku lihat adalah senyumnya yang saat itu begitu indah. Ine tersenyum seperti mentari dipagi hari. Itulah yang pertama kali aku suka dari Ine yaitu senyumnya.
“Dwi dengerin deh ini lagu aku request buat kamu”
Oh jadi tadi dia request lagu, tak kira SMS siapa? Ine menatapku lalu bernyanyi untukku. Aku lupa lagunya apa waktu itu.
“Ini isi hatiku untuk kamu” Kata Ine.
Heheh. Mendengar hal itu membuatku tertawa. Dasar cewek steres!!
Terkadang kalau aku dirumah aku sering mendengarkan radio sambil tiduran. Stasiun faforitku adalah Prambors Surabaya.fm (89.3) penyiar idolaku waktu itu adalah Titi Harahab. Setiap kali Titi bersiar lucu, aku sering tertawa kalau mendengarkannya bersiar. Suaranya 11 12 dengan Ine, mungkin itu yang membuatku selalu betah dengerin radio. Setiap kali aku mendengarkan radio aku selalu tersenyum karena mengingat kebersamaanku bersama Ine. Seluruh isi diotakku adalah Ine.
Apa ini cinta? Fikirku ketika memikirkannya. Tidak boleh aku tidak boleh jatuh cinta, cinta itu menyakitkan apalagi ketika harus kehilangan. Aku selalu memungkiri rasa ini pada Ine tapi tetap akal dan fikiranku tidak sejalan. Ine pernah berkata padaku “Memang hidup ini tidaklah sempurna, itu sebabnya terkadang kita harus berbagi untuk melengkapi kesempurnaan seseorang agar hidup kita lebih sempurna”. Awalnya aku tidak mengerti arti dari kata-katanya, tapi sekian lama atas apa yang dia lakukan terhadapku akhirnya aku berkesimpulan.
Setengah dari kesempurnaan kita ada di orang lain dan kesempurnaan itulah yang mampu membuatmu tersenyum manis.
Setiap aku bersama dengan Ine sepertinya setengah kebahagiaanku adalah dia. Ine membuat hidupku lebih sempurna dan lebih berarti. Banyak hal yang diajarkan Ine dalam hidupku, sejak saat itu aku menjadi lebih berubah. Aku mulai memiliki beberapa teman, lebih sering tertawa, mencoba memendam keegoisan dalam diri.
Saat ini aku sudah kelas 2 SMK dan Ine masih menjomblo. Suatu hari aku mendengar kalau adiknya Ine menikah mendahului Ine, entah kenapa hal itu terjadi dan itu bukan urusanku juga. Terpaksa Ine harus dipanggil adik. Aku merasa sedih mendengar hal itu, Ine tidak pernah cerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Waktu aku bersama dengan Ine, Ine tetap menjadi Ine yang seperti biasa, tersenyum, tertawa. Sepertinya tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya.
“Ine kamu kenapa? Kenapa kamu enggak cerita, apa kamu takut menunjukan isi hatimu yang sebenarnya?” fikirku dalam hati ketika bertatapan dengannya.
Malam harinya Ine aku SMS.
“Ine kamu jangan takut untuk menangis. Jika perlu aku rela mengorbankan pundakku ini untukmu bersandar”
Entah kenapa aku bisa SMS seperti itu, enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba aku SMS seperti itu ke Ine.
“Iya Dwi,,,” Jawabnya dalam SMS.
Aku merasa sedih, setiap kali aku mau tidur tidak lupa aku mendoakan Ine dan orang-orang yang aku sayangi.
“Ya Tuhan tolong beri kebahagiaan terhadap orang-orang yang aku cintai di akhirat Ya Tuhan serta tolong dekatkan Jodohnya Ine Ya Tuhan. Hanya itu yang ku minta apa yang Engkau berikan kepadaku sudah cukup Ya Tuhan tapi semua ini kurasa kurang lengkap jika tanpa kebahagiaan dari orang-orang yang aku sayangi Ya Tuhan. Kabulkan do’a ku ini. Amin”
Hampir setiap malam aku berdo’a, jika berpapasan bertemu dengan Ine aku juga berdo’a. yang aku inginkan hanyalah melihat Ine bahagia meski bukan denganku. Aku sadar umurku dengannya terpaut jauh umurku 18 sedangkan Ine 23. Itu lah tembok diantara kita, jadi orang yang tepat buat Ine bukanlah aku. Siapapun orangnya asalkan Ine bahagia aku juga ikud bahagia.
Aku lebih sering bersama Ine, aku ingin selalu menghibunya, aku ingin selalu melihatnya tertawa. Cinta yang dulu aku benci sekarang malah aku rindukan. Entah kapan aku mulai jatuh cinta pada Ine, meskipun rasanya pahit jika memikirkan keyatannya yaitu umur. “Setidaknya aku ingin menemani Ine sampai dia bertemu dengan jodohnya” Itu yang ada dalam fikiranku.
“Dwi dengerin deh ini lagu buat kamu” kata-kata itu yang selalu terucap di bibirnya kala aku bersamanya mendengarkan radio.
Terkadang aku dengan Ine berdebat tentang hal yang tidak penting.
“Alahhh!!! Rumah di pelosok aja bangga!!” Sindir Ine kepadaku.
“Sombong!! Mentang-mentang merasa tua sombong! Udah keriput, bawel lagi” Aku emosi, heheh
Kalau kejadiannya udah kayak gitu Ine cemberut karena merasa kalah. Saat itulah jurus pamungkasku ku keluarkan.
“Udah jangan cemberut gitu tuh kriputnya udah mulai nampak” hahahah. Aku hanya bisa tertawa dalam hati.
Tapi tidak selamanya aku menang pernah suatu hari aku harus menelan yang namanya kekalahan dan rasanya itu. Nyesek banget.
“Enggak nyadar diri lu! udah ceking, kerempeng, lola, stress, sok cool, jelek lagi” Ejek Ine kepadaku.
Langsung daraku naik, aku balas ejekannya “Lu juga, udah tua, kriput, stress, nyenengin, ngangenin, manis lagi” Tanpa sadar diakhir ejekan ada sesuatu hal yang membuatku bingung. Kenapa aku ngomgong kayak gitu sih! Siall!! Otak dan bibirku tidak sinkron. Mendengar hal itu Ine tertunduk sambil cekikikan menikmati kemenangannya. Aarrrgggghhhh hal itu membuatku kesal. Kalo aja ada tempat sampah mungkin udah aku tendang sampai ke pulau dewata sambil bilang “Dimmmmm”. Kesel banget. Kesel sekesel-keselnya.
Malam hari ketika aku mau tidur aku membuka galeri foto. Aku kaget di album fotoku terselip fotonya Ine. Aku jadi bingung sejak kapan dia menggunakan HP ku untuk berfoto, aku jarang melihat galeri kalau enggak ingin. Senyumnya begitu manis, benar-benar aku suka dengan senyumnya. Aku zoom fotonya “heheh, dijidatnya ada jerawat” ucapku dalam hati. Kemudian aku SMS Ine.
“Aduh mataku sakit,,”
“Mata kamu kenapa Dwi,,,” Balas SMSnya.
“Kebanyakan ngelihat foto kamu”
“Awas itu mata nanti jereng lalu kemudian bintitan” Balasnya.
“Kamu nyumpahin aku!!”
“Enggak juga sih tapi moga-moga aja kejadian”
Kampret ini cewek! Nyesel tadi SMS.
Dari dulu aku adalah tipe orang yang cuek dan penyendiri jadi sedikit sekali orang-orang mengetahui tentang diriku. Tapi lain dengan Ine, dia tau minuman kesukaanku, makanan faforitku, lagu kesukaanku, dll. Padahal aku enggak pernah cerita tentang semua hal itu. Ine mengetahuinya karena dia selalu mengawasiku, melihat kebiasaanku, dan mengikuti gerak-gerikku. Pernah suatu hari sepulang sekolah Ine membawakan nasi goreng kepadaku. Pas waktunya ketika aku kelaparan.
“Kamu belum makan? Ini makan dulu kasian anak orang terlantar enggak punya rumah kelaparan”
Kata-katanya begitu menyentuh. Sialan tuh si Ine.
“Sini tak suapin. Enak enggak?” kata Ine sambil menyuapiku.
“Enak. Beli dimana?” Jawabku.
“Ya udah kalo enak habisin, kalo bisa makan sendiri. Nanti timunnya jangan dihabisin aku mau minta timunnya aja”
Ya ampun ini cewek awalnya aja baik. Ujung-ujungnya jutek kembali. Ya udah aku makan nasi goreng pemberian Ine sampai habis. Tapi kenapa Ine cemberut waktu itu.
Sejak ine sudah mempunyai pacar kami jarang bersama, SMS, dll. Aku memaklumi lagi pula itu juga mauku. Aku hanya takut kalau aku terus dekat dengan Ine nanti pacarnya cemburu terus Ine ngejomblo lagi. Aku senang akhirnya do’aku terkabul juga. Ketika aku berpapasan dengan cowoknya Ine aku berkata dalam hati “Tolong jaga Ine, jangan mainin dia, kamu harus serius, lamar dia buat dia bahagia”
Tidak lama kemudia di semester dua aku harus magang seperti halnya anak SMK yang lain selama 4 bulan. Sejak saat itu aku tidak tau kabar dari Ine. Setelah 4 bulan aku dengar kabar kalau Ine sudah menikah. Entah kapan Ine menikah. Mendengar kabar itu aku bahagia, hampir saja air mataku menetes saking bahagianya.
“Ya Tuhan terimakasih Engkau telah mengabulkan do’aku. Ini adalah kebahagiaan yang selama ini aku nantikan”
Kebahagiaanku adalah melihatnya bahagia, meski dia jauh dariku atau tidak bersamaku. Asal jangan Engkau ambil dia itu sudah cukup membuatku bahagia.
Aku anggap tugas ku sudah selesai sekarang giliran suami Ine yang bertugas membahagiakan Ine. Kini aku harus mencari kebahagiaanku sendiri entah dimana kebahagiaanku berada. Ine adalah sebuah kenangan biar bagaimanapun aku harus melupakannya terkadang kita harus rela orang yang kita cintai dimiliki oleh orang lain demi melihatnya bahagia. Banyak hal yang aku dapat dari Ine, pelajaran-pelajaran berharga ketika aku bersamanya. Semua pelajaran itulah yang sulit aku lupakan dari dia, aku adalah tipe orang yang terpesona dari kata-kata yang dewasa dan dapat memotifasi seseorang. Seperti yang pernah Ine katakana padaku.
“Kamu itu egois! Kamu hanya melihat dunia ini hanya dengan sebelah mata. Padahal jika kamu membuka kedua matamu, kamu akan sadar betapa luasnya dunia ini dan betapa sempitnya cara berfikirmu”
Ine berkata hal itu karena yang aku lakukan hanya mengeluh dan berfikir menurut pandanganku sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Itu sebabnya sampai saat ini aku sulit untuk jatuh cinta, bukan karena hatiku terbelenggu oleh Ine tapi lebih kepada apa yang aku ucapkan dulu pada diriku sendiri yaitu “Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri” kebahagiaan yang pernah aku rasakan adalah ketika bersama Ine maka yang ku cari adalah kebahagiaan yang seperti dulu yang pernah aku rasakan. Kebahagiaannya saja, bukan orangnya yang harus mirip dengan Ine.
Ada sebuah lagu yang sampai saat ini mengingatkanku pada Ine. Ketika bersama Ine lagu ini biasa-biasa saja. Tapi setelah aku miskomunikasi dengan Ine alias Ine sudah memiliki kehidupannya sendiri entah kenapa lagu ini begitu menyentuh hatiku. Jika lagu ini benar-benar harapan Ine rasanya aku ingin menangis. Ini dia liriknya:
Astrid_Tentang Rasa
Aku tersesat menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkanku lepas penatku
Tuk sejenak lelap dibahumu
Reff:
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam didera goda dan masa
----------------TAMAT--------------------







0 komentar:
Posting Komentar